Susahnya Mencari Angka Kematian Di Wilayah Pegunungan Tengah Papua


Angka Kematian Kasar atau yang lebih dikenal dengan Mortalitas merupakan angka yang menunjukkan banyaknya kematian untuk setiap seribu orang penduduk pada pertengahan tahun yang terjadi pada suatu daerah pada waktu tertentu.

Dimana angka kemtian ini sangat berguna untuk memberikan gambaran mengenai keadaan kesejahteraan penduduk pada suatu tahun yang bersangkutan. Apabila dikurangkan dari Angka Kelahiran Kasar akan menjadi dasar perhitungan pertumbuhan penduduk alamiah.

Di Wilayah Papua sendiri khususnya kawasan Pegunungan Tengah hampir susahnya kami mendapatkan pengakuan dari responden apakah ada keluarga yang meninggal dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Hal ini saya alami ketika melakukan Sensus Penduduk di Kabupaten Tolikara, Papua.

Rata-rata masyarakat di Papua susah sekali untuk mengaku apakah ada yang meninggal dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Hal ini diakibatkan karena penduduk asli papua itu sendiri tidak ingin mengingat kejadian yang mengakibatkan berduka atau mengalami kesedihan mendalam akibat kehilangan sanak saudara. Disamping itu juga, susahnya mendapatkan informasi tentang kematian yang dialami oleh responden adalah bahwa dalam benak masyarakat tersebut bahwa setiap petugas BPS yang datang pasti akan ada harapan bantuan buat mereka. Padahal setiap petugas BPS yang datang tidak menjanjikan apa-apa kepada msyarakat manapun.


Dalam hal ini masyarakat Papua khususnya wilayah pegunungan tengah selalu merasa takut jika jumlah penduduknya berkurang dari tahun ke tahun. Sehingga para responden tetap mengaku kalau art yang sudah meninggal masih dianggap hidup sampai sekarang.

Nah disini susahnya kita sebagai petugas BPS melakukan probing langsung kepada responden dalam mentukan jumlah kematian yang ada pada suatu wilayah. Sehingga pendekatan berbagai cara pun dilakukan agar mendekati kewajaran, seperti mendatangi kuburan di suatu wilayah yang nihil angka kematiannya dan dilihat data kematian yang tertera pada plang yang ada di kuburan.



Selanjutnya, ada sedikit trik dari bapak mantan Kepala BPS Papua era Januari 2016-Januari 2017 yang sekarang Kepala BPS Propinsi DI Yogyakarta Bapak Johanes De Brito Priyono dalam mendekati menghitung jumlah angka kematian. Trik yang diberikan yaitu menghitung jumlah ambulance yang membawa orang meninggal (biasanya ambulance ada pengiringnya menggunakan bendera putih untuk yang muslim dan bendera hitam untuk yang beragama kristen protestan maupun yang beragama kristen khatolik) yang lewat di sekitar kita (saesuai wilayahnya agar tidak double counting). Hal ini dilakukan beliau agar mendapatkan pendekatan kewajaran angka kematian yang ada di wilayah papua.

Demikian keunikan pendataan di Propinsi Papua, semoga menjadi masukan yang baik bagia kita semua selaku insan BPS terutama di wilayah daerah papua khususnya pegunungan tengah.


#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe9

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Jayawijaya

Grup Menulis BPS